Jumat, 13 Oktober 2017

Hari itu


Tiba-tiba aku teringat hari itu. Hari dimana kita menghabiskan waktu berdua bersama yang tak disengaja. Tidak melakukan apapun, hanya mendengarkan kamu bercerita tentang segala hal. Dari mulai anak asisten rumah tanggamu yang selalu kamu jahili sampai alasan batalnya keinginanmu untuk melanjutkan kuliah di korea.
Aku tidak ingat bagaimana awalnya, yang aku ingat aku hanya ingin menyendiri diruangan lain karna begitu panas dan terlalu banyak orang. Sampai tiba-tiba kamu datang dan bertanya "ngapain disini sendirian?". Aku menghadap kearahmu dan berkata "gapapa lagi ngadem aja". Aku tidak ingat bagaimana tapi pada akhirnya kita duduk berhadapan dan memulai percakapan itu. Awalnya kamu bertanya padaku dan ingin mengetahui kehidupanku, tapi aku hanya menjawab seperlunya dan tidak tertarik untuk menceritakannya, bukan karna aku tidak mau kamu mengetahuinya tapi karna memang tidak ada hal yang menarik dihidupku untuk aku ceritakan padamu. Sampai akhirnya aku mulai bertanya tentangmu, dan dengan caramu kamu menceritakan semuanya. Entahlah aku merasa begitu nyaman mendengar semua ceritamu, mungkin aku terpesona atau aku memang suka hingga tanpa aku sadari aku hanya tersenyum, tertawa dan berkata seperlunya saat menanggapi ceritamu.
Aku sangat senang hari itu. Walaupun hanya bisa mendengarkanmu bercerita, tapi aku benar-benar menikmati setiap detik berdua bersamamu. Sampai tiba-tiba dia datang dan obrolan kita terhenti.

Rasanya saat ini aku ingin mengulang semua kejadian menyenangkan itu denganmu. Tapi aku tahu itu tidak mungkin.
Dan sekarang aku hanya bisa mengulang semua hal itu didalam kepalaku saja.

Selasa, 23 Desember 2014

MEREKA.

Perasaaan ini. Perasaan ini selalu ada dimanapun aku berada. Rasa sepi yang aku rasakan hingga menjalar keseluruh tubuhku. Air mata ini bahkan sudah terlalu kering untuk selalu menangisi keadaanku saat ini. Semenjak kepergianmu Mama, rumah bukan lah lagi tempat yang menyenangkan untuk aku datangi, aku lebih memilih diluar sana untuk, setidaknya melupakan rasa sepiku karna aku memiliki mereka. Mereka yang memberikan aku kebahagiaan lagi setelah engkau tiada, mereka yang membuatku nyaman berada dikampus, mereka yang membuatku tertawa, mereka yang membuatku tersenyum, mereka yang memberikanku perhatian, mereka yang membuatku memiliki keluarga kecil yang aku butuhkan, mereka yang membuatku melupakan pahitnya kenyataan hidup membuatnya seperti coklat, “coklat” mengapa coklat? Karena hanya coklat setiap bagiannya membuatku merasa tenang, dan membuatku tersenyum dalam keadaan apapun. Sesaat semua itu hilang, pergi dan meninggalkan secercah kenangan yang membuat aku selalu tersenyum jika mengingatnya. Ingin sekali rasanya aku mengulang segalanya, tapi waktu seakan merenggut kebahagiaanku. Waktu merampas semua senyum dan tawa ku, serta terus membuat semua itu hanya sebuah kenangan yang bisa aku ulangi didalam mimpiku. Mimpi yang membuatku tidak ingin terbangun dari tidurku.

Terima kasih untuk satu tahun yang membahagiakan, satu tahun yang membuatku menyesal. Menyesal karna aku tidak bisa mengabadikan setiap moment yang kalian berikan, satu tahun yang membuat aku ingin tertawa jika mengingatnya karna terlalu banyak “drama” dalam keluarga kecil kita. Maafkan aku yang selalu terbawa perasaan (baper) yang membuat kalian jengkel dan mungkin membenciku. Tapi aku selalu akan menyayangi dan merindukan kalian. Dimanapun kalian berada. Meskipun sekarang aku dan kalian tidak bisa bersama, namun aku selalu memiliki mimpi bersama kalian. Aku ingin sekali saat wisuda nanti kita akan kumpul bersama dan berfoto bersama untuk mengabadikan moment terindah dalam hidup kita. Terima kasih untuk kalian. Sukses! See you on top!.

Rabu, 02 Juli 2014

Aku rindu

Aku rindu masa kecilku, dimana kesulitan hanya sebatas PR matematika.
Aku rindu masa kecilku, dimana yang aku dapat hanya kebahagiaan.
Aku rindu masa kecilku, dimana aku tidak pernah merasa sendirian.
Aku rindu masa kecilku, dimana disaat aku terjatuh ada mama yang mengobatiku.
Aku rindu masa kecilku, dimana ada mama yang selalu menghapus air mataku.
Aku rindu masa kecilku, dimana ada mama yang memeluk dan merawatku ketika aku sakit.
Aku benar-benar merindukan itu semua. Aku rindu masa kecilku.

Rabu, 25 Juni 2014

I miss you mama

Hai mama.
Aku membutuhkan seseorang untuk bicara. Aku membutuhkan seseorang yang mengerti diriku. Aku butuh seseorang yang ingin memelukku dengan penuh kasih sayang seperti dirimu. Dulu saat engkau masih ada disampingku, setiap saat aku marah, sedih atau apapun itu yang aku rasakan, aku tidak pernah merasa sendiri. Karena engkau selalu ada disampingku. Disaat apapun itu. Selalu ingin mendengarkanku, menghapus air mataku dan memelukku dengan penuh kasih sayang.
Sekarang setelah engkau tiada, aku merasa sendiri didunia ini. Tanpa satu orang pun disampingku. Orang-orang yang saat ini disampingku begitu fana untukku. Mereka datang dan pergi tanpa peduli padaku. Aku merindukanmu mama. Rasa rindu ini benar-benar menyakitiku. Rasa sakit yang harus aku telan sendiri, membuatku menjadi bukan diriku. Setelah engkau tiada, tak ada lagi tawa bahagia yang aku rasakan, tak ada lagi senyuman yang begitu ikhlas, tak ada lagi kehangatan yang engkau berikan.
Mama, jika aku bisa memilih aku lebih memilih bersamamu didunia sana dari pada aku sendiri didunia ini. Aku rindu padamu mama.

Love, andin

Sabtu, 29 Maret 2014

For you

Aku terlalu sibuk dengan semua hal yang tidak pasti diluar sana. Bermain-main dengan hari meski gelap. Meski hujan dan Petir. Meski selalu berakhir dengan memeluk rasa sakit yang menyebalkan. Sungai dimataku menderas. Arusnya melubangi hatiku. Setiap malam pula aku menyebut namamu dalam doa. Berharap tuhan memberikan keajaiban untukku. Sedikit keajaiban. Mengapa awan hitam seolah menyelimutiku begitu erat sehingga aku tak bisa bergerak?
Tapi kamu tahu? Aku akan seperti langit, yang selalu ada disana, menatapmu dari kejauhan. Gelap disaat kamu sedih dan cerah disaat kamu senang. Walaupun aku yakin kamu tidak menganggap langit itu berharga, bahkan mungkin tidak ada.

Minggu, 03 November 2013

sudah lama aku tidak merasakan kenyamanan dan indahnya persahabatan. saat ini aku duduk dibangku kuliah semester 1. pada hari pertama aku kuliah, aku benar-benar tidak tahu harus bermain dengan siapa karna hanya aku sendiri yang masuk ke jurusan akuntansi. tapi setelah dua minggu menjelang semuanya berubah. aku seperti memiliki keluarga baru, persahabatan baru. jika sehari saja tidak bertemu dengan mereka, aku merasakan ada yang aneh. walaupun aku sedang sakit, terkadang aku memilih untuk tetap kuliah agar bisa bertemu dengan mereka. karna saat aku bersama mereka, semua perasaan sakitku hilang dan berubah menjadi senyuman bahkan tertawaan. tingkah laku mereka yang terkadang membuatku bingung, tetapi ternyata itu adalah cara mereka untuk menghibur. Mama, seandainya engkau masih disini aku ingin sekali memperkenalkan mereka denganmu. Mama pasti sekarang dirimu sudah tenang disana dan memandangiku sambil tersenyum karna saat ini aku memiliki sahabat yang sudah seperti keluarga untukku.
Tuhan, terima kasih karena engkau telah memberikan sahabat-sahabat yang baik kepadaku.

Senin, 15 Juli 2013

kamu.



kamu. kamu yang selalu membuatku tertawa dengan ulahmu. sikapmu yang kekanak-kanakan yang membuatku jengkel setiap kali kamu meledekku dengan semua guyolan-guyolan yang menjengkelkan tetapi tetap membuatku tersenyum.
aku mencarimu dalam kebisuan yang lebih sering kamu ciptakan ketika tanyaku selalu kamu jawab dengan tanda tanya baru.
kamu tahu hal yang paling menyakitkan adalah disaat mencintai tanpa bisa mengungkapkan. Menyimpan semuanya sendiri secara rapi, menutupnya rapat-rapat, dan disimpan didalam hati yang paling dalam. Sendiri. Merasakan sakit. Sakit yang begitu hebat yang kamu tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menutupinya.
Aku tidak pernah benar-benar marah dengan semua sikapmu. Aku hanya berpura-pura jengkel dan sebal terhadapmu untuk menutupi perasaanku. Kepura-puraan itu benar-benar membuatku sakit. Sakit karna aku harus menahan dan tidak meluapkan apa yang aku rasakan.
2 APRIL 2013
Bel pulang berbunyi, seperti biasa aku pulang terlambat karna aku belajar bersama teman sebangkuku untuk menghadapi ujian nasional. Aku melihat kamu duduk tidak berusaha bangkit untuk pualng kerumah. Aku masih memperhatikanmu. Tapi aku yakin kamu tidak menyadari itu. Saat aku sedang mengerjakan soal-soalku, tiba-tiba kamu sudah berada disamping temanku. Aku tahu, hari ini aku sama sekali tidak bersikap manis padamu. Pagi tadi saat aku menahan sakit diperutku, kamu bertanya padaku “lo kenapa?” tapi aku hanya menjawab “enggak” dan seketika itu juga aku pergi meninggalkanmu. Saat jam pelajaran kamu meminta diajari oleh teman sebangkuku, aku sempat memperhatikanmu, dan saat itu juga kamu melihatku. Dan yang aku lakukan adalah melirikmu dengan tatapan yang menurutku benar-benar menjengkelkan. Kamu berkata padaku “lo itu kenapa sih sama gue? Sensi banget dari kemaren sama gue. Gue salah apa sama lo?”. Andai saja kamu tahu semua yang aku lakukan hanyalah untuk menepis semua perasaanku. Agar semua perasaan yang membuatku nyaman denganmu yang hanya akan membuat harapan-harapanku semakin membukit.
Saat teman sebangkuku mengajariku, kamu datang dan ikut mencoba mengajariku. Aku sedang menghitung menggunakan kalkulator yang berada dihpku, tapi kamu mengambil hpku dan berkata “ayo dong lo gak harus tergantung sama kalkulator kan lo bisa kok gue Cuma mau yang terbaik buat lo”. Andai saja kamu tahu semua kata-kata itu membuatku semakin nyaman dan selalu ingin tersenyum. Aku membalas perkataanmu “ih nyebelin banget sih lo pulang aja sana”. “gak mau ah gue mager, lagi bilang aja lo seneng kalo gue disini”. Rasanya aku ingin berteriak dan berkata “iya aku senang kamu berada disampingku. Aku ingin kamu selalu disampingku membuatku tertawa, dengan semua guyolan-guyolanmu”. Tapi nyatanya aku berkata “apaan sih lo pulang sana, ganggu aja”. Dan kamu tetap duduk disana tanpa memperdulikan perkataanku.
Pintu kelas terbuka,temanku yang lainnya datang dan mengobrol dengannya. Awalnya aku tidak memperhatikan obrolan mereka berdua, tetapi pada saat nama dia disebut dalam obrolan kalian, aku langsung memperhatikan sambil tetap mengerjakan soal-soalku. Temanku yang lainnya berkata “oh iya lo satu tempat les kan sama dia?”. Kamu menjawab “iya tapi gue harinya lain sama dia”. Tiba-tiba kamu menoleh kearahku dan berkata “lo mau nggak jadi ‘dia’ yang baru buat gue?” dengan santainya aku menjawab “enggak”. Aku sangat ahli dalam menghindari perasaanku sendiri, kamu tahu? Bagiku suatu perasaan tidaklah nyata kalau aku menolak merasakannya. Perasaan itu tidaklah nyata kalau aku menolak mengakuinya. Tapi kalian semakin gencar membicarakan dia. Bahksn kamu menyetel lagu yang membuat kalian semakin larut dalam membicarakan dia. Konsentrasi belajarku pun sudah tidak karuan, aku sudah tidak focus dengan apa yang aku kerjakan. Andai saja kamu tahu aku benar-benar sakit mendengarmu membicarakan dia. Aku merasa tidak berhak merasakan perasaan yang selalu membuatku bahagia tanpa alasan itu. Yang selalu membuatku tersenyum tiap kali aku mengingatmu, yang selalu membuatku berharap, dan kembali memikirkan “seandainya”.Seketika itu juga aku sudah tidak tahan. Dan aku memutuskan menutup bukuku dan berkata “udah ya”.
Harapan-harapanku begitu membuatku sakit, membuatku ingin sekali rasanya membencimu dan membiarkan perhatianmu hanya perhatian sebatas sahabat. Tapi aku tidak bisa. Yang bisa aku lakukan hanyalah terus-menerus menutupi perasaanku, bahkan aku tidak tahu sampai kapan. Mungkin sampai saatnya itu datang.