kamu. kamu yang selalu membuatku tertawa dengan ulahmu.
sikapmu yang kekanak-kanakan yang membuatku jengkel setiap kali kamu meledekku
dengan semua guyolan-guyolan yang menjengkelkan tetapi tetap membuatku
tersenyum.
aku mencarimu dalam kebisuan yang lebih sering kamu ciptakan
ketika tanyaku selalu kamu jawab dengan tanda tanya baru.
kamu tahu hal yang paling menyakitkan adalah disaat
mencintai tanpa bisa mengungkapkan. Menyimpan semuanya sendiri secara rapi,
menutupnya rapat-rapat, dan disimpan didalam hati yang paling dalam. Sendiri.
Merasakan sakit. Sakit yang begitu hebat yang kamu tidak tahu harus bagaimana
lagi untuk menutupinya.
Aku tidak pernah benar-benar marah dengan semua sikapmu. Aku
hanya berpura-pura jengkel dan sebal terhadapmu untuk menutupi perasaanku.
Kepura-puraan itu benar-benar membuatku sakit. Sakit karna aku harus menahan
dan tidak meluapkan apa yang aku rasakan.
2 APRIL 2013
Bel pulang berbunyi, seperti biasa aku pulang terlambat
karna aku belajar bersama teman sebangkuku untuk menghadapi ujian nasional. Aku
melihat kamu duduk tidak berusaha bangkit untuk pualng kerumah. Aku masih
memperhatikanmu. Tapi aku yakin kamu tidak menyadari itu. Saat aku sedang
mengerjakan soal-soalku, tiba-tiba kamu sudah berada disamping temanku. Aku
tahu, hari ini aku sama sekali tidak bersikap manis padamu. Pagi tadi saat aku
menahan sakit diperutku, kamu bertanya padaku “lo kenapa?” tapi aku hanya
menjawab “enggak” dan seketika itu juga aku pergi meninggalkanmu. Saat jam
pelajaran kamu meminta diajari oleh teman sebangkuku, aku sempat
memperhatikanmu, dan saat itu juga kamu melihatku. Dan yang aku lakukan adalah
melirikmu dengan tatapan yang menurutku benar-benar menjengkelkan. Kamu berkata
padaku “lo itu kenapa sih sama gue? Sensi banget dari kemaren sama gue. Gue
salah apa sama lo?”. Andai saja kamu tahu semua yang aku lakukan hanyalah untuk
menepis semua perasaanku. Agar semua perasaan yang membuatku nyaman denganmu
yang hanya akan membuat harapan-harapanku semakin membukit.
Saat teman sebangkuku mengajariku, kamu datang dan ikut
mencoba mengajariku. Aku sedang menghitung menggunakan kalkulator yang berada
dihpku, tapi kamu mengambil hpku dan berkata “ayo dong lo gak harus tergantung
sama kalkulator kan lo bisa kok gue Cuma mau yang terbaik buat lo”. Andai saja
kamu tahu semua kata-kata itu membuatku semakin nyaman dan selalu ingin
tersenyum. Aku membalas perkataanmu “ih nyebelin banget sih lo pulang aja
sana”. “gak mau ah gue mager, lagi bilang aja lo seneng kalo gue disini”.
Rasanya aku ingin berteriak dan berkata “iya aku senang kamu berada
disampingku. Aku ingin kamu selalu disampingku membuatku tertawa, dengan semua
guyolan-guyolanmu”. Tapi nyatanya aku berkata “apaan sih lo pulang sana, ganggu
aja”. Dan kamu tetap duduk disana tanpa memperdulikan perkataanku.
Pintu kelas terbuka,temanku yang lainnya datang dan mengobrol
dengannya. Awalnya aku tidak memperhatikan obrolan mereka berdua, tetapi pada
saat nama dia disebut dalam obrolan kalian, aku langsung memperhatikan sambil
tetap mengerjakan soal-soalku. Temanku yang lainnya berkata “oh iya lo satu
tempat les kan sama dia?”. Kamu menjawab “iya tapi gue harinya lain sama dia”.
Tiba-tiba kamu menoleh kearahku dan berkata “lo mau nggak jadi ‘dia’ yang baru
buat gue?” dengan santainya aku menjawab “enggak”. Aku sangat ahli dalam
menghindari perasaanku sendiri, kamu tahu? Bagiku suatu perasaan tidaklah nyata
kalau aku menolak merasakannya. Perasaan itu tidaklah nyata kalau aku menolak
mengakuinya. Tapi kalian semakin gencar membicarakan dia. Bahksn kamu menyetel
lagu yang membuat kalian semakin larut dalam membicarakan dia. Konsentrasi
belajarku pun sudah tidak karuan, aku sudah tidak focus dengan apa yang aku
kerjakan. Andai saja kamu tahu aku benar-benar sakit mendengarmu membicarakan
dia. Aku merasa tidak berhak merasakan perasaan yang selalu membuatku bahagia
tanpa alasan itu. Yang selalu membuatku tersenyum tiap kali aku mengingatmu,
yang selalu membuatku berharap, dan kembali memikirkan “seandainya”.Seketika
itu juga aku sudah tidak tahan. Dan aku memutuskan menutup bukuku dan berkata
“udah ya”.
Harapan-harapanku begitu membuatku sakit, membuatku ingin
sekali rasanya membencimu dan membiarkan perhatianmu hanya perhatian sebatas
sahabat. Tapi aku tidak bisa. Yang bisa aku lakukan hanyalah terus-menerus
menutupi perasaanku, bahkan aku tidak tahu sampai kapan. Mungkin sampai saatnya
itu datang.