Senin, 15 Juli 2013

kamu.



kamu. kamu yang selalu membuatku tertawa dengan ulahmu. sikapmu yang kekanak-kanakan yang membuatku jengkel setiap kali kamu meledekku dengan semua guyolan-guyolan yang menjengkelkan tetapi tetap membuatku tersenyum.
aku mencarimu dalam kebisuan yang lebih sering kamu ciptakan ketika tanyaku selalu kamu jawab dengan tanda tanya baru.
kamu tahu hal yang paling menyakitkan adalah disaat mencintai tanpa bisa mengungkapkan. Menyimpan semuanya sendiri secara rapi, menutupnya rapat-rapat, dan disimpan didalam hati yang paling dalam. Sendiri. Merasakan sakit. Sakit yang begitu hebat yang kamu tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menutupinya.
Aku tidak pernah benar-benar marah dengan semua sikapmu. Aku hanya berpura-pura jengkel dan sebal terhadapmu untuk menutupi perasaanku. Kepura-puraan itu benar-benar membuatku sakit. Sakit karna aku harus menahan dan tidak meluapkan apa yang aku rasakan.
2 APRIL 2013
Bel pulang berbunyi, seperti biasa aku pulang terlambat karna aku belajar bersama teman sebangkuku untuk menghadapi ujian nasional. Aku melihat kamu duduk tidak berusaha bangkit untuk pualng kerumah. Aku masih memperhatikanmu. Tapi aku yakin kamu tidak menyadari itu. Saat aku sedang mengerjakan soal-soalku, tiba-tiba kamu sudah berada disamping temanku. Aku tahu, hari ini aku sama sekali tidak bersikap manis padamu. Pagi tadi saat aku menahan sakit diperutku, kamu bertanya padaku “lo kenapa?” tapi aku hanya menjawab “enggak” dan seketika itu juga aku pergi meninggalkanmu. Saat jam pelajaran kamu meminta diajari oleh teman sebangkuku, aku sempat memperhatikanmu, dan saat itu juga kamu melihatku. Dan yang aku lakukan adalah melirikmu dengan tatapan yang menurutku benar-benar menjengkelkan. Kamu berkata padaku “lo itu kenapa sih sama gue? Sensi banget dari kemaren sama gue. Gue salah apa sama lo?”. Andai saja kamu tahu semua yang aku lakukan hanyalah untuk menepis semua perasaanku. Agar semua perasaan yang membuatku nyaman denganmu yang hanya akan membuat harapan-harapanku semakin membukit.
Saat teman sebangkuku mengajariku, kamu datang dan ikut mencoba mengajariku. Aku sedang menghitung menggunakan kalkulator yang berada dihpku, tapi kamu mengambil hpku dan berkata “ayo dong lo gak harus tergantung sama kalkulator kan lo bisa kok gue Cuma mau yang terbaik buat lo”. Andai saja kamu tahu semua kata-kata itu membuatku semakin nyaman dan selalu ingin tersenyum. Aku membalas perkataanmu “ih nyebelin banget sih lo pulang aja sana”. “gak mau ah gue mager, lagi bilang aja lo seneng kalo gue disini”. Rasanya aku ingin berteriak dan berkata “iya aku senang kamu berada disampingku. Aku ingin kamu selalu disampingku membuatku tertawa, dengan semua guyolan-guyolanmu”. Tapi nyatanya aku berkata “apaan sih lo pulang sana, ganggu aja”. Dan kamu tetap duduk disana tanpa memperdulikan perkataanku.
Pintu kelas terbuka,temanku yang lainnya datang dan mengobrol dengannya. Awalnya aku tidak memperhatikan obrolan mereka berdua, tetapi pada saat nama dia disebut dalam obrolan kalian, aku langsung memperhatikan sambil tetap mengerjakan soal-soalku. Temanku yang lainnya berkata “oh iya lo satu tempat les kan sama dia?”. Kamu menjawab “iya tapi gue harinya lain sama dia”. Tiba-tiba kamu menoleh kearahku dan berkata “lo mau nggak jadi ‘dia’ yang baru buat gue?” dengan santainya aku menjawab “enggak”. Aku sangat ahli dalam menghindari perasaanku sendiri, kamu tahu? Bagiku suatu perasaan tidaklah nyata kalau aku menolak merasakannya. Perasaan itu tidaklah nyata kalau aku menolak mengakuinya. Tapi kalian semakin gencar membicarakan dia. Bahksn kamu menyetel lagu yang membuat kalian semakin larut dalam membicarakan dia. Konsentrasi belajarku pun sudah tidak karuan, aku sudah tidak focus dengan apa yang aku kerjakan. Andai saja kamu tahu aku benar-benar sakit mendengarmu membicarakan dia. Aku merasa tidak berhak merasakan perasaan yang selalu membuatku bahagia tanpa alasan itu. Yang selalu membuatku tersenyum tiap kali aku mengingatmu, yang selalu membuatku berharap, dan kembali memikirkan “seandainya”.Seketika itu juga aku sudah tidak tahan. Dan aku memutuskan menutup bukuku dan berkata “udah ya”.
Harapan-harapanku begitu membuatku sakit, membuatku ingin sekali rasanya membencimu dan membiarkan perhatianmu hanya perhatian sebatas sahabat. Tapi aku tidak bisa. Yang bisa aku lakukan hanyalah terus-menerus menutupi perasaanku, bahkan aku tidak tahu sampai kapan. Mungkin sampai saatnya itu datang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar