Minggu, 03 November 2013

sudah lama aku tidak merasakan kenyamanan dan indahnya persahabatan. saat ini aku duduk dibangku kuliah semester 1. pada hari pertama aku kuliah, aku benar-benar tidak tahu harus bermain dengan siapa karna hanya aku sendiri yang masuk ke jurusan akuntansi. tapi setelah dua minggu menjelang semuanya berubah. aku seperti memiliki keluarga baru, persahabatan baru. jika sehari saja tidak bertemu dengan mereka, aku merasakan ada yang aneh. walaupun aku sedang sakit, terkadang aku memilih untuk tetap kuliah agar bisa bertemu dengan mereka. karna saat aku bersama mereka, semua perasaan sakitku hilang dan berubah menjadi senyuman bahkan tertawaan. tingkah laku mereka yang terkadang membuatku bingung, tetapi ternyata itu adalah cara mereka untuk menghibur. Mama, seandainya engkau masih disini aku ingin sekali memperkenalkan mereka denganmu. Mama pasti sekarang dirimu sudah tenang disana dan memandangiku sambil tersenyum karna saat ini aku memiliki sahabat yang sudah seperti keluarga untukku.
Tuhan, terima kasih karena engkau telah memberikan sahabat-sahabat yang baik kepadaku.

Senin, 15 Juli 2013

kamu.



kamu. kamu yang selalu membuatku tertawa dengan ulahmu. sikapmu yang kekanak-kanakan yang membuatku jengkel setiap kali kamu meledekku dengan semua guyolan-guyolan yang menjengkelkan tetapi tetap membuatku tersenyum.
aku mencarimu dalam kebisuan yang lebih sering kamu ciptakan ketika tanyaku selalu kamu jawab dengan tanda tanya baru.
kamu tahu hal yang paling menyakitkan adalah disaat mencintai tanpa bisa mengungkapkan. Menyimpan semuanya sendiri secara rapi, menutupnya rapat-rapat, dan disimpan didalam hati yang paling dalam. Sendiri. Merasakan sakit. Sakit yang begitu hebat yang kamu tidak tahu harus bagaimana lagi untuk menutupinya.
Aku tidak pernah benar-benar marah dengan semua sikapmu. Aku hanya berpura-pura jengkel dan sebal terhadapmu untuk menutupi perasaanku. Kepura-puraan itu benar-benar membuatku sakit. Sakit karna aku harus menahan dan tidak meluapkan apa yang aku rasakan.
2 APRIL 2013
Bel pulang berbunyi, seperti biasa aku pulang terlambat karna aku belajar bersama teman sebangkuku untuk menghadapi ujian nasional. Aku melihat kamu duduk tidak berusaha bangkit untuk pualng kerumah. Aku masih memperhatikanmu. Tapi aku yakin kamu tidak menyadari itu. Saat aku sedang mengerjakan soal-soalku, tiba-tiba kamu sudah berada disamping temanku. Aku tahu, hari ini aku sama sekali tidak bersikap manis padamu. Pagi tadi saat aku menahan sakit diperutku, kamu bertanya padaku “lo kenapa?” tapi aku hanya menjawab “enggak” dan seketika itu juga aku pergi meninggalkanmu. Saat jam pelajaran kamu meminta diajari oleh teman sebangkuku, aku sempat memperhatikanmu, dan saat itu juga kamu melihatku. Dan yang aku lakukan adalah melirikmu dengan tatapan yang menurutku benar-benar menjengkelkan. Kamu berkata padaku “lo itu kenapa sih sama gue? Sensi banget dari kemaren sama gue. Gue salah apa sama lo?”. Andai saja kamu tahu semua yang aku lakukan hanyalah untuk menepis semua perasaanku. Agar semua perasaan yang membuatku nyaman denganmu yang hanya akan membuat harapan-harapanku semakin membukit.
Saat teman sebangkuku mengajariku, kamu datang dan ikut mencoba mengajariku. Aku sedang menghitung menggunakan kalkulator yang berada dihpku, tapi kamu mengambil hpku dan berkata “ayo dong lo gak harus tergantung sama kalkulator kan lo bisa kok gue Cuma mau yang terbaik buat lo”. Andai saja kamu tahu semua kata-kata itu membuatku semakin nyaman dan selalu ingin tersenyum. Aku membalas perkataanmu “ih nyebelin banget sih lo pulang aja sana”. “gak mau ah gue mager, lagi bilang aja lo seneng kalo gue disini”. Rasanya aku ingin berteriak dan berkata “iya aku senang kamu berada disampingku. Aku ingin kamu selalu disampingku membuatku tertawa, dengan semua guyolan-guyolanmu”. Tapi nyatanya aku berkata “apaan sih lo pulang sana, ganggu aja”. Dan kamu tetap duduk disana tanpa memperdulikan perkataanku.
Pintu kelas terbuka,temanku yang lainnya datang dan mengobrol dengannya. Awalnya aku tidak memperhatikan obrolan mereka berdua, tetapi pada saat nama dia disebut dalam obrolan kalian, aku langsung memperhatikan sambil tetap mengerjakan soal-soalku. Temanku yang lainnya berkata “oh iya lo satu tempat les kan sama dia?”. Kamu menjawab “iya tapi gue harinya lain sama dia”. Tiba-tiba kamu menoleh kearahku dan berkata “lo mau nggak jadi ‘dia’ yang baru buat gue?” dengan santainya aku menjawab “enggak”. Aku sangat ahli dalam menghindari perasaanku sendiri, kamu tahu? Bagiku suatu perasaan tidaklah nyata kalau aku menolak merasakannya. Perasaan itu tidaklah nyata kalau aku menolak mengakuinya. Tapi kalian semakin gencar membicarakan dia. Bahksn kamu menyetel lagu yang membuat kalian semakin larut dalam membicarakan dia. Konsentrasi belajarku pun sudah tidak karuan, aku sudah tidak focus dengan apa yang aku kerjakan. Andai saja kamu tahu aku benar-benar sakit mendengarmu membicarakan dia. Aku merasa tidak berhak merasakan perasaan yang selalu membuatku bahagia tanpa alasan itu. Yang selalu membuatku tersenyum tiap kali aku mengingatmu, yang selalu membuatku berharap, dan kembali memikirkan “seandainya”.Seketika itu juga aku sudah tidak tahan. Dan aku memutuskan menutup bukuku dan berkata “udah ya”.
Harapan-harapanku begitu membuatku sakit, membuatku ingin sekali rasanya membencimu dan membiarkan perhatianmu hanya perhatian sebatas sahabat. Tapi aku tidak bisa. Yang bisa aku lakukan hanyalah terus-menerus menutupi perasaanku, bahkan aku tidak tahu sampai kapan. Mungkin sampai saatnya itu datang.

aku memang pengecut



Aku tidak mengerti. Mengapa harus kamu? Yang menjadi satu-satunya dalam hatiku. Banyak orang yang kutemui. Tetapi harus kamu pada akhirnya yang ada dihatiku. Cinta. Bukan suatu kebetulan. Cinta. Bisakah menghubungkanmu denganku? Hanya hati yang tahu jawabannya. Siapakah yang ada dimimpiku? Kamulah yang aku tunggu. Karena hatiku telah meminta. Karena hatiku telah berkata. Ada untukmu selamanya. Karena hatiku tidak pernah berkata bohong. Bahwa kamulah satu-satunya. Tidak banyak alasan.itu hanya karna hatiku telah memilihmu.


Tidak tahu berapa lama itu. Bahwa aku harus menolak sesuatu. Menyembunyikan semua kebenaran dihatiku. Setiap kali kita bertemu. Setiap kali kamu memandangku. Aku hanya pura-pura bertahan. Tahukah kamu betapa aku menahan diriku? Meskipun aku mencintaimu. Walaupun aku merasakannya tetapi diriku tidak cukup berani untuk mengatakannya. Dapatkah kamu mendengar itu? Hatiku. Mengatakan bahwa aku mencintaimu. Tetapi aku tidak bisa mengungkapkan perasaanku yang sesungguhnya. Dapatkah kamu dengar itu? Hatiku. Masih menunggu kamu untuk membukanya. Hanya bisa berharap kamu akan mengetahuinya. Bahwa aku disini ada untuk mencintaimu. Ku mohon agar kamu mengetahuinya. Suatu hari.
 

kamu



Sekolah telah usai. Tak ada lagi alasanku untuk bertemu denganmu. Dan saat ini aku teramat sangat meerindukanmu. Benar-benar merindukanmu. Setiap hari, setiap waktu, setiap detak jam berbunyi, kerinduan akan dirimu semakin menjadi. Kadang aku berfikir lebih baik aku menjadi temanmu saja seperti yang lain agar kita bisa bertemu kapanpun aku mau. Agar aku bisa mengatakan “aku menyayangimu sahabat” atau “aku merindukanmu kawan”. Tapi semua itu terlalu munafik untukku. Untukku yang memiliki perasaan yang lebih kepadamu. Untukku yang mengagumimu secara diam-diam. Untukku yang tulus mencintaimu. Saat ini yang aku ingin lakukan adalah masuk kedalam kepalamu. Menelusuri apa saja yang ada di isi kepalamu. Apakah aku ada didalam pikiranmu?. Hanya kamu. Hanya kamu yang menyulitkanku membaca apa yang ada dipikiranmu. Hanya kamu. Hanya kamu yang menjawab semua pertanyaanku dengan tanda Tanya baru yang kamu buat untukku.

aku merindukanmu




Aku merindukanmu seperti siang yang selalu merindukan mentari. Aku merindukanmu seperti malam yang selalu merindukan bulan. Kamu adalah matahari yang menghangatkan pagiku, dan bulan yang menerangi selama tidur malamku. Tak bosan aku menyebut namamu dalam doa-doaku, berusaha mengetuk pintu hati tuhan supaya berbaik hati mengirimkanmu untukku. Aku merindukanmu. Benar-benar merindukanmu.
Sulit untuk dijelaskan, ketika perasaan rindu ini menyiksaku. Perasaan rindu yang tak pernah tersampaikan, perasaan rindu yang hanya kunikmati sendiri. Aku tidak tahu apakah bayangmu memang begitu eratnya atau semua kenangan kita sengaja ku pelihara? Tak perlulah kamu tahu berapa banyak air mata yang membasahi bantal saat khayalku terbawa dalam kenangan tentangmu. Dan dinginnya hari-hariku tanpa senyummu. Aku hanya ingin tahu apakah kamu merindukanku sebagaimana aku merindukanmu? Tapi disisi lain aku yakin bahwa kamu tidak akan merindukanku, karna aku hsnya sebagian kecil dari hidupmu, sedangkan kamu adalah salah satu hal terindah yang tidak pernah kumiliki. Aku sudah jatuh cinta terlalu begitu dalamnya. Sudah terlambat ketika aku menyadari semuanya, dan aku menyadari kita tidak akan pernah bisa  bersama.