Aku merindukanmu seperti siang yang selalu merindukan
mentari. Aku merindukanmu seperti malam yang selalu merindukan bulan. Kamu
adalah matahari yang menghangatkan pagiku, dan bulan yang menerangi selama
tidur malamku. Tak bosan aku menyebut namamu dalam doa-doaku, berusaha mengetuk
pintu hati tuhan supaya berbaik hati mengirimkanmu untukku. Aku merindukanmu.
Benar-benar merindukanmu.
Sulit untuk dijelaskan, ketika perasaan rindu ini
menyiksaku. Perasaan rindu yang tak pernah tersampaikan, perasaan rindu yang
hanya kunikmati sendiri. Aku tidak tahu apakah bayangmu memang begitu eratnya
atau semua kenangan kita sengaja ku pelihara? Tak perlulah kamu tahu berapa
banyak air mata yang membasahi bantal saat khayalku terbawa dalam kenangan
tentangmu. Dan dinginnya hari-hariku tanpa senyummu. Aku hanya ingin tahu
apakah kamu merindukanku sebagaimana aku merindukanmu? Tapi disisi lain aku
yakin bahwa kamu tidak akan merindukanku, karna aku hsnya sebagian kecil dari
hidupmu, sedangkan kamu adalah salah satu hal terindah yang tidak pernah
kumiliki. Aku sudah jatuh cinta terlalu begitu dalamnya. Sudah terlambat ketika
aku menyadari semuanya, dan aku menyadari kita tidak akan pernah bisa bersama.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar