Selasa, 09 Juli 2013

MAMA



Cinta. Satu kata yang membuat orang begitu berarti. Tapi cinta untukku adalah hal yang paling menyakitkan. Karna disaat aku cinta, dan aku mulai merasa mencitai orang-orang disekitarku, serta aku juga mulai menyadari seberapa besar cintaku untuk mereka. Tapi disaat itu juga tuhan berkehendak lain. Bagiku cinta itu kepada orang tuaku terutama ibuku. Orang yang rela mempertaruhkan nyawanya hanya untukku, yang mempertaruhkan segalanya demi kebahagiaanku.
Hari pada saat aku berulang tahun aku harus mendengar hal yang tidak pernah aku mau dan aku impikan. Saat aku mengetahui ibuku mengidap penyakit kanker payudara. Iya kanker penyakit yang begitu kejam yang merusak semuanya, merusak kebahagiaanku, merusak semua mimpiku. Mimpi yang sudah aku rancang dan semua itu hanya untuk kebahagiaan ibuku. Mimpi yang aku rajut untuk membalas sedikit saja jasa ibuku. Bahkan aku tdak pernah ikhlas akan apa yang telah menimpa ibuku. Sampai suatu hari aku berusaha bercerita kepada seorang kawanku yang telah kehilangan ibunya dan sudah bisa menjalani hidup seperti biasa. Aku sempat terpuruk. Bahkan benar-benar terpuruk karna entah setan apa yang memasuki tubuh ini karna aku berfikir bila aku bisa menukar nyawaku untuk kesembuhannya. Tapi “dia”, dia merubah semuanya. Dia yang membuat aku belajar. Dia yang membuat aku bangkit dari keterpurukanku, dia yang membuat aku untuk bisa ikhlas. Dia yang mengajarkan aku untuk lebih dewasa dan sabar dalam menghadapi semuanya.
Tapi penyakit itu tidak membuat ibuku menyerah begitu saja. Aku tidak melihat dia menangis bahkan menyesalinya. Saat dokter berkata penyakit ini datang dariku, yang tidak ingin meminum asi ibuku sendiri. Sakit rasanya, bahkan aku selalu berkata “andai saja  aku tidak lahir ke dunia ini mungkin aku tidak akan pernah membuat penyakit ini datang pada ibuku”. Tapi ibuku selalu berkata “hal terindah dalam hidup mama adalah ketika mama melihat anak mama lahir dan menjadi seseorang kelak dewasa nanti”.
Setiap hari semenjak hari ulang tahunku. Aku selalu mendengar jeritan serta tangisan ibuku yang menahan rasa sakit dari penyakitnya. Yang terus menggerogoti seluruh tubuhnya. “mama, andai saja aku bisa menukar nyawaku dan membuat dirimu sembuh kembali aku ikhlas melakukannya”. “andai saja penyakit itu bisa dipindahkan kediriku dan diri ini tidak akan melihat dirimu terus menagis dan menjerit menahan sakit, aku rela. Tidak ada satupun hal yang bisa menghalangiku menggantikan dirimu”. Karna aku tahu, aku tidak akan bisa hidup tanpamu. Mama.
Didalam doaku selalu kusebut namamu. Didalam hatiku terukir indah dirimu. Dipikiranku tidak ada satu detik pun tidak memikirkanmu.
Saat hari ulang tahunmu. Aku membelikan kue kesukaanmu mama. Tiramisu. Kue kesukaan mama. Tapi sudah tidak bisa memasukan apapun kedalam perutnya. Mama berusaha memakan kue itu untuk melihat aku tersenyum. Seberapa keras usaha mama dia tetap tidak bisa memasukan kue itu kedalam perutnya. “maafin mama ya, bukannya mama gak mau makan kue dari kamu tapi perut mama udah gakbisa nerima apa-apa”. Dan saat itu aku hanya bisa tersenyum. Tapi tiba-tiba mama berkata “apapun cita-cita kamu mama pasti ngedukung kamu, kamu kejar cita-cita kamu”. Tidak ada satu pun firasat itu adalah pesan terakhir untukku.
Malam minggu. Saat kedua temanku menengok mama. Aku tidak pernah menyangka bahwa itu malam terakhir aku melihat senyum mama. Dan aku tidak pernah tahu. Yang aku ingat malam itu mama menitipkanku kepada teman-temanku. Aku tidak mengerti apa maksud mama.
Keesokan harinya, papa menelfonku dan memintaku untuk segera datang kerumah sakit. Selama perjalanan aku hanya berkata didalam hatiku. “ya tuhan beri aku kesempatan untuk meminta maaf dan mengatakan aku sangat menyayanginya”. Ternyata doaku didengar. Saat aku sampai dan melihat kondisi mama sudah seperti itu. Aku hanya menghampirinya dan membisikan “mama maafkan aku karna aku belum bisa membuatmu bangga kepadaku dan mama aku benar-benar mencintaimu”. Tidak lama setelah itu detak jantung mama semakin menurun dan mama pergi untuk selamanya. Melihat mama yang terbujur kaku dalam keadaan tanpa nyawa. Itu merupakan tendangan yang begitu keras dan aku menganggap semua itu hanya mimpi burukku dan saat aku terbangun dari tidur aku masih bisa mendengar suara mama membangunkanku, saat mama memarahiku karna aku terlalu lama didalam kamar mandi, saat mama menyuapiku karna aku tak pernah sempat sarapan. Tapi itu semua tidak mungkin kutemukan lagi. Semuanya hanya masa lalu. Yang begitu indah yang membuat hatiku sakit saat mengingat semuanya.

Mama semenjak kepergianmu tidak ada satu hari pun tetesan air mata yang tidak keluar. Saat ini 100 hari lebih engkau pergi. Dan sampai saat ini juga aku masih belum bisa menghentikan air mataku. Aku sakit ma, aku sakit bila harus menyembunyikan kesedihanku dan air mataku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar